Anime Underrated: Great Teacher Onizuka
Anime Recomended
Anime ini menjadi salah satu anime paling direkomendasikan oleh salah satu ustadz di Pondok Pesantren Putra Al-Fattah dulu. Bahkan, menjadi satu-satunya oleh guru mengaji makhroj pertama saya di Ponpes Al-Fattah.
“Aku sebenere gak pernah seneng nonton anime tah film ngono, gak realistis. Tapi, aku pernah nonton siji anime iku apik banget. Kwe mending ndelok, judule GTO.” Begitulah kiranya saran yang pernah saya terima waktu kelas sepuluh dulu.
GTO. Great Teacher Onizuka.
Anime ini menceritakan Eikichi Onizuka, seorang mantan ketua geng motor legendaris yang bercita-cita menjadi seorang guru. Ada dua niat dalam tujuan karirnya untuk menjadi guru. Niat yang pertama adalah niat buruk, yaitu supaya dirinya dikelilingi oleh perempuan-perempuan muda yang cantik.
Niat yang kedua adalah niat mulia, yaitu membenarkan sistem pendidikan. Ia tidak suka bagaimana para guru yang bertugas sebagai pendidik malah mengusir, mengolok-olok, mengeluarkan murid-murid yang bermasalah. Baginya, bukan begitu pendidikan seharusnya. ia ingin membuat sebuah suasana pendidikan yang menyenangkan, di mana anak-anak didiknya betah untuk terus berada di sana.
Ia kemudian diberi kesempatan untuk merealisasikan keinginannya tersebut di sekolah SMP Hutan Suci, pada kelas paling bermasalah di sekolah tersebut, yaitu kelas 3-4. Kelas yang membuat setiap guru yang menjadi wali kelas, bahkan guru yang mengajar di kelas tersebut stres berat.
Apakah Onizuka Berhasil?
Tentu saja dia berhasil. Onizuka adalah MC di cerita ini. Kalau tidak berhasil, maka judul animenya bukan Great Teacher Onizuka.
Ia menjadi guru yang amburadul. Perokok berat, mesum, bodoh, dan kekonyolan lainnya. Namun, justru karena itulah ia mendapatkan respect dari sebagian muridnya. Ia menyetarakan derajatnya dengan para muridnya, sehingga hubungan antara guru dan murid menjadi dekat.
Akan tetapi, menyamakan derajatnya dengan siswa-siswanya tidaklah cukup. Beberapa siswanya memiliki permasalahan serius yang membuat mereka tidak bisa fokus dengan sekolah, seperti ekonomi, keharmonisan keluarga, mother complex, bullying, romansa, dan berbagai permasalahan lainnya. Di sini, Onizuka kembali diuji untuk merealisasikan niat keduanya.
Guru Senantiasa Hadir Untuk Muridnya
Sebagai guru, orang yang harus senantiasa hadir untuk murid-muridnya, Onizuka melakukannya Beberapa permasalahan memang ia atasi, seperti bullying. Namun, lebih banyak lagi permasalahan yang tidak bisa ia selesaikan. Ia hanya hadir untuk muridnya, menawarkan solusi yang lebih realistis. Yakni menerima dengan lapang dada masalah mereka. Bahkan di kasus bullying, Onizuka hanya membantunya beberapa kali, lantas mengatakan kepada sang murid untuk berani melawan atau terima saja dirinya dibully.
Lantas, masalah terakhir yang dialami antara Onizuka dan beberapa siswanya yang tersisa, yang masih tidak menerimanya, adalah krisis kepercayaan. Para murid tidak percaya lagi dengan seorang guru karena wali kelas mereka tahun lalu yang terlibat kasus mengerikan, menghamili siswinya sendiri, kemudian kabur.
Dalam keadaan ini, Onizuka tidak memaksa sisa-sisa siswanya yang tidak percaya padanya. Ia bahkan tidak menjanjikan mereka bahwa dirinya akan meninggalkannya. Ia hanya mengatakan bahwa manusia memang pada dasarnya penuh dosa, kenapa tidak memaafkannya saja. Ia juga mengatakan bahwa percaya atau tidak bukan urusannya, tapi urusan para muridnya itu sendiri.
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar