Mengenal Loid Forger a.k.a Twilight: Agen Westalis Paling Diandalkan
Episode dua dan tiga Spy x Family season tiga menghadirkan sesuatu yang menarik. Setelah hahahihi cerita slice of life Anya, Loid, Yor, dan Bond, kita disuguhkan masa lalu dari agen mata-mata paling diandalkan di sisi Westalis, Loid Forger a.k.a Twilight. Pasca itu, Loid Forger atau Twilight atau siapapun namanya itu menjadi salah satu karakter favorit saya. Masuk dalam jajaran tokoh dengan character development terbaik yang pernah saya tonton.
Twilight, begitulah kode namenya. atau Loid Forger, begitulah dia dikenal di masyarakat. Namun, nama aslinya tak pernah disebutkan. Dulu, saat kecil dia dipanggil Penasehat. Anak kecil biasa yang hobi main perang-perangan. Tanpa tahu betapa mengerikannya sebuah perang.
Ia pintar. Selalu punya rencana mengesankan yang membuatnya selalu menang dalam permainan perang dengan teman-temannya. Sayangnya, sama seperti permasalahan orang dengan kemampuan otak yang mumpuni di cerita-cerita, ia tidak dianugerahi ekonomi yang memadai. Lebih tepatnya, orang tuanya tidak mengizinkannya.
Hal ini menjadi masalah untuk Twilight. atau kita panggil saja ‘Penasehat’ terlebih dahulu. Karena begitulah dulu ia dipanggil di masa kecilnya. Penasehat tidak dianggap setara oleh teman-temannya. Ia tidak pantas berperang karena tidak mempunyai alat berperang seperti mereka yang padahal hanya sebuah mainan. Penasehat hanya mengandalkan pistol karet yang ia buat sendiri.
Saat pulang ke rumah, penasehat mendapati ayahnya yang baru saja pulang kerja. Ia bersemangat menyambut ayahnya, sampai lupa menyembunyikan pistol karet yang masih ada di genggaman tangannya. Sang ayah murka. Sambil mengatakan bahwa perang tidak akan terjadi, tidak berguna bercita-cita menjadi tentara, lebih baik belajar untuk menjadi cendekiawan, Sang Ayah menampar anaknya.
Rumah seketika runyam. Penasehat masuk ke kamarnya, mengunci pintu kamar. Ia tidak peduli nasehat ayahnya yang terus mengatakan tidak akan ada perang, tidak berguna bercita-cita menjadi tentara, lebih baik belajar dan bla… bla… bla…
Keesokan harinya, penasehat dan teman-temannya tidak bermain karena dipanggil oleh orang dewasa di kampung mereka untuk membantu persiapan festival. Di sana, Penasehat mendengar berbagai pandangan terkait perang dari orang dewasa, namun mayoritas sepakat kalau mereka nyaman hidup damai, yakin perang tidak akan terjadi.
Di momen itu juga, Penasehat kembali diejek oleh kawan-kawannya. Mereka mengolok-ngoloknya lebih pantas mengurus festival karena tidak memiliki perlengkapan mereka seperti mereka. Hal ini akhirnya membuat Penasehat semakin minder dan berani berbohong kepada ayahnya. Ia mengatakan bertekad untuk belajar dan meminta uang untuk membeli buku, yang akhirnya ia gunakan untuk membeli perlengkapan perang mainan.
Momen ini luar biasa. Relate sekali untuk banyak penonton. Tidak hanya mengingatkan mereka pada masa anak-anak, yang mungkin sebagian juga pernah melakukan hal yang sama seperti dirinya. Tapi mengingatkan kembali akan perasaan hati ketika hendak melakukan maksiat. Layar hitam dengan tulisan putih di tengah-tengahnya menggambarkan hati nurani yang terus berteriak ketika kita hendak maksiat, atau sedang melakukannya. Ia terus berteriak untuk tidak melakukannya dan segera bertobat.
Hal ini juga terjadi pada Penasehat. Ia sempat hendak mengakui kebohongannya. Namun tidak jadi. Akan tetapi, saat sudah memamerkannya pada teman-temannya, ia merasa hampa. Yang akhirnya membuatnya kembali. Ia pergi ke toko kroket tempat ia dan kawan-kawannya biasa membeli. Di sana ia hendak membantu dan mendapatkan uang untuk mengembalikannya pada ayahnya.
Di sana, Penasehat menyambi bercakap dengan ibu-ibu penjual kroket. Bertanya apakah dirinya tidak pantas menjadi tentara. Ibu-ibu itu menjawab bukan tidak pantas, namun Penasehat lebih cocok menjadi cendekiawan, peneliti, atau apapun itu. Tidak perlu berperang. Orang-orang Timur, Ostania mereka menyebutnya, bukanlah orang-orang yang patut diperangi. Ibu-ibu menceritakan bahwa ia punya saudara yang tinggal di Ostania.
Penasehat pun memantapkan niatnya untuk mengakui kebohongannya pada ayahnya. Sayang sekali, takdir berkata lain. Tatsuya Endo memasak lagi ceritanya dengan menurunkan bom di kampung halaman penasehat tersebut. Semuanya hancur lebur. Salah satu kota di Ostania itu dibombardir. Ayah Penasehat tidak ada kabar. Tidak berselang lama, tempat pengungsiannya juga dibombardir. Ibu, paman, dan seluruh keluarganya mati.
Semua rentetan itu cukup menjadikannya untuk mengangkat senjata. Ia mengganti identitasnya sebagai Lorand Spoofy dari Luwen. Seperti saat kecil, ia berbakat sekali dalam berperang. Dalam sekejap, ia menjadi sersan. Dalam salah satu momen, ketika ia berjaga di hutan, ia bertemu dengan Franky Franklin, salah satu tentara Ostania. Di momen itu, Lorand - mari kita sebut dia seperti itu sekarang - pertama kalinya menyaksikan tentara Ostania yang tidak menakutkan. Terlihat seperti manusia biasa. Tidak seperti anggapannya selama ini bahwa mereka adalah iblis yang tidak berperasaan.
Mereka bercakap-cakap. Franky mengajaknya membahas tentang sebuah penelitian tentang empati manusia. Mulanya, manusia memiliki empati yang baik sekali. Franky menceritakan tentang sebuah video seorang laki-laki yang ditampar pacarnya. Orang-orang yang menonton video diperlihatkan berempati pada sang laki-laki. Namun, ketika mereka diperlihatkan video lebih lengkap, bahwa ternyata sang laki-laki selingkuh, mereka setuju atas kekerasan yang dilakukan sang laki-laki.
“Apa yang kau bicarakan?” tanya Lorand Spoofy yang tidak paham saat itu.
Franky menjelaskan tentang kebiasaan manusia yang menerima begitu saja kabar yang ada. Tidak melakukan re-check. Seperti yang terjadi pada perang antara Westalis dan Ostania saat ini. Yang berperang tanpa tahu kebenaran yang ada. Lorand menyeru. Dia tidak setuju. Ia tahu kebenarannya. Ostania lah yang memulai dengan mengebom Luwen, kampung halamannya. Franky menyahut. Bukan seperti itu kebenaran yang tersampaikan di Ostania. Westalis lah yang mengebom kampung halaman mereka sendiri supaya terjadi perang. Namun, Franky menambahi bahwa bukan itu poin yang hendak mereka bahas.
Sayangnya, saat itu Lorand tidak berkepala dingin. Ia masih diliputi amarah dan menolak mendengarkan pembahasan dari Franky. Lorand masih tidak peduli dengan pentingnya informasi, mengetahui. Ia pun ditampar kenyataan ketika bertemu dengan kawan lamanya yang ternyata selamat dan ikut wajib militer sama seperti dirinya. Namun, tiga temannya hanya berpangkat bawah. Dan langsung mati karena dikirim dalam misi yang gegabah. Di momen ini, ia akhirnya mengetahui betapa pentingnya mengetahui, tahu bahwa senjata paling mutakhir adalah informasi. Apabila ia tahu bahwa itu misi yang gegabah, ia akan menggunakan pangkatnya sebagai sersan untuk menghentikan misi tersebut.
Di sisi lain, tanpa Lorand sadari, reuni dengan kawan-kawan lamanya membawa petaka pada Lorand. Ia ketahuan telah menyamarkan identitasnya. Tapi ternyata, ia tidak dieksekusi. Ia diajak menjadi mata-mata. Diajarkan kepadanya bahwa skeptis memang perlu, bahwa informasi adalah senjata terkuat, dan harus terus-menerus digali.
“Tugas ini mengharuskanmu untuk membuang semua yang berhubungan denganmu. Apakah tidak apa-apa?” tanya orang yang merekrut Lorand sebelum mereka berangkat.
“Tidak apa-apa. Lagipula, aku sudah tidak punya siapa-siapa.”
Momen percakapan ini mnejadi momen penutup yang mahal sekali. Lorand kemudian ditanya, lantas mengapa kalau dia tidak punya siapa-siapa, untuk apa dia berjuang. Meskipun tidak mengatakan tidak ada alasan terentu, momen anak-anak yang bermain dengan bahagia yang ada di dekat mereka, dengan adegan yang slow motion memherikan jawaban, bahwa meskipun ia mengalami rasa sakit, ia tidak akan membiarkan orang lain mengalami rasa sakit seperti dirinya.
.jpg)



Komentar
Posting Komentar