THIS IS MY REDEMPTION
Rak manga di Gramedia bagi saya
adalah satu kisah unik tersendiri. Dulu, saat enam tahun saya di MI, rak itu
adalah tempat favorit saya. Bahkan menjadi satu-satunya rak yang saya hampiri
ketika datang ke Gramedia. Setiap habis berkunjung ke saudara-saudara di
Semarang, saya selalu meminta Ummi untuk mampir ke Gramedia. Di sana, saya
selalu menghabiskan beberapa uang untuk komik-komik jepang tersebut. Rata-rata
memang Naruto. Karena dulu, saat saya masih kecil, saya benar-benar dilarang
nonton One Piece.
Akan tetapi, perasaan suka atau
cinta tersebut dibalik di enam tahun saya berada di MTs dan MA. Tepatnya
setelah saya mengenal novel. Selama enam tahun itu, hobi membaca saya dari
cerita-cerita dengan gambar yang cantik menawan nan luar biasa itu, berganti
dengan teks-teks dengan keindahan sastra dan kekuatan kata-kata.
Di momen itu, saya tergenjutsu
dengan pikiran saya sendiri, bahwa lebih worth it membeli novel ketimbang
manga. Karena meskipun lebih mahal, durasi menikmatinya lebih lama. Track
record membaca manga saya paling cepat dulu waktu MI sekitar dua jam kurang.
Sementara track record membaca novel paling lama saya setidaknya sekitar tujuh
jam, waktu itu saat di pondok bakda Isya’ sampai jam dua malam. Bahkan, track
record saya membaca manga terbaru di waktu kuliah ini cukup setengah jam lebih
sedikit.
Namun, setelah enam tahun hidup
dengan mencintai manga, juga setelah melewati enam tahun dengan menjauhi manga,
di masa perkuliahan ini, tepatnya baru-baru ini, saya memandang manga dengan
cara yang berbeda. Bukan hanya sebagai hal yang saya cintai, dan tentu bukan
lagi sebagai hal yang saya hindari. Kini, saya memandang manga sebagai sebuah
penyesalan.
THIS IS MY REDEMPTION
Salah satu alasan mengapa saya dulu
menghindari membeli manga karena saya menemukan situs-situs membaca manga
gratis. Ada mangaku, komiku, dan berbagai macam situs manga lainnya. Padahal
pada saat itu, saya telah membaca “Selamat Tinggal”, salah satu karya Tere Liye
yang menyadarkan saya betapa biadabnya kegiatan illegal. Seberapa berdosa
orang-orang yang telah memberikan akses illegal tersebut, juga orang-orang yang
menikmatinya. Ironisnya, padahal pada saat itu, saya telah anti terhadap
novel illegal. Namun, masih saja mau menikmati karya illegal versi lain,
seperti anime, film, atau manga.
Alhamdulillah, akhirnya saya
mendapatkan hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Di masa kuliah
awal-awal, saya disadarkan untuk tidak lagi menonton film atau anime di situs
illegal. Kakak sepupu saya bahkan berbaik hati berbagi akun Netflixnya.
Bahkan sempat waktu itu, karena hanya hendak menonton “Pengepungan di Bukit
Berduri”, saya membeli akun prime video. Pada saat itu, saya telah
mengikrarkan diri untuk tak lagi terjun ke kubangan dosa menonton film dan
manga di situs illegal.
Alhamdulillah pula, akhir-akhir ini,
saya tak lagi mempermasalahkan harga manga yang mungkin sedikit mahal. Sekitar
40.000 sampai 70.000 setiap volumenya. Tersadarkan dengan sedikit kepingan masa
lalu yang bodoh, saat saya mau-maunya membuang uang untuk membeli skin tak
berguna di Mobile Legends, skin Alpha Legends. Di situ saya tersadar,
saya ternyata mampu membuang uang bejibun untuk hal tidak berguna tersebut.
Maka, seharusnya saya mampu untuk menebus hutang-hutang dosa saya selama ini.
Mungkin tidak semuanya, bahkan setengahnya, setidaknya sebagian kecil pun tidak
apa.
Karena ada sebuah qoidah Fikih,
مَا لَا يُدْرَكُ كُلُّهُ لَا يُتْرَكُ
كُلُّهُ
apa yang tidak dapat diraih
semuanya, jangan ditinggalkan semuanya


Komentar
Posting Komentar